"Krokot untuk Dokter"
Oleh:Wulan Sari
Pagi ini aku membantu ibu membersihkan pekarangan rumah kami yang tak terlalu besar. Sama dengan perumahan sederhana lainnya hanya berukuran 2x3 meter. Namun ibu menyulapnya menjadi taman impianku, penuh dengan aneka warna warni bunga.
Tampak ibu menyiangi krokot yang di tanam pada sebuah paralon berukuran persegi. Posisinya berada pada sisi atas pagar rumah kami.
"Ibu berapa sering kita harus menyianginya?" Aku melihat tangan ibu memilah beberapa dedaunan kering serta ada juga sebagian yang tampak berjamur.
"Cukup satu kali sebulan saja nak." Ibu memisahkan sampah dari penyiangan itu.
"Apa Dea suka?" Ibu memandang sesaat tepat saat aku memberikan anggukan.
Bunga krokot ibu adalah yang terbaik menurutku. Berselang-seling aneka warna, dan ibu sengaja membuatnya seperti itu.
"Biasanya tante Tari selalu datang mampir menyaksikan ibu berbenah bunga, tapi sekarang tidak." Aku melirik ke arah rumah tetanggaku itu.
Ia adalah dokter paru yang ramah. Memiliki seorang anak, Diana namanya. masih berusia 7 tahun. Biasanya sebelum Corona muncul, setiap sore kami main bersama. Kami sangat kompak, mungkin karena umurku hanya terpaut 2 tahun. Tapi sekarang keadaan berubah.
"Bu tante Tari kapan pulang dinasnya ya? Kemaren Diana menelpon, dia bilang masih lama." Ibu tersenyum sembari memberikanku setangkai krokot warna pink.
"Untuk ku bu?" Aku senang mendapat setanggkai yang sedang kembang.
Ibupun membenarkannya dengan memberikan jempolnya ke arahku.
Aku menemukan sebuah ide. Dan aku sangat bersemangat sekali.
"Bu aku ingin menanam krokot, bagaimana caranya?" walau sering menemani ibu menanamnya, namun aku takut ada yang terlupa.
Ibu memberiku sebuah pot bunga, beliau menjelakan jika ingin cepat melihat bunganya mekar, aku bisa mengsteknya namun jika ingin kuat dan tahan lama tumbuhnya sebaiknya menggunakan benihnya. Aku memilih yang cepat saja.
"Apa bunganya ingin warna-warni dalam satu pot?" ibu menawarkanku berbagai pilihan warna krokot.
Aku menggangguk dan sangat senang dengan tawaran ibu.
Ibu memilihkan bunga, dan aku menyiapkan pupuk dan tanah pada pot. Tak butuh waktu lama sebuah pot krokotku selesai.
"Sementara jauhkan dulu dari sinar matahari terik, dan siramlah 1 kali dalam 3 atau empat hari." Ibu memberikan penjelasan yang sangat penting sekali.
Selang seminggu krokotku sudah tampak mekar bunganya. Aku memberikan sebuah pita pink pada potnya. Dan ku gantungkan selembar kartu ucapan. Semoga ia suka.
Tanpa di duga sore itu tampak mobil Tante tari datang. Sudah lebih dari dua minggu tak terlihat. Aku bergegas mengambil pot bungaku.
Saat ia hendak membuka pagarnya aku memanggil namanya dari balik terali pagar.
"Ada apa sayang, bungamu bagus." Ia melirik krokot ku yang mengembang, warna-warni.
"ini untuk tante, semoga tante suka." Sesaat ia tertegun.
Ia meraihnya dari tanganku. Dan mengucapkan terimakasih.
"Bacalah kartunya, itu buatanku sendiri." Dan ia langsung membuka lipatan kertas kecil itu.
"Untuk Dokter Tari, Kami sangat bangga padamu. Kami sayang Tante. Love You." ia tertunduk, dan tampak menyeka air mata yang jatuh di pipinya.
"Terimakasih banyak sayang, tante sangat senang sekali. Ini akan tante jaga dengan baik. Semangat!" Aku mengepalkan tangan dan menganggaknya persis sama dengan yang ia lakukan.
Sepertinya tante Tari sangat senang namun sebenarnya aku jauh lebih senang melakukannya.

Posting Komentar