Pantaslah kiranya saya menulis ulang dengan redaksional sendiri. Tentang seorang anak yang dioperasi oleh ahli bedah kardiovaskular. Setelah sehari pasca operasi, jantung nya berhenti berdetak. Dokter pun segera melakukan pijat jantung, setelah 45 menit barulah jantung kembali bekerja. Bagai kembali hidup dari sebuah kematian. Di kabarkan lah berita itu pada ibu si anak, bukan menangis,bukan menyalahkan atau menegaskan usaha terbaik dari pihak rumah sakit. Namun jawaban singkat saja terdengar.
"Alhamdulillah" hanya ucapan itu yang di keluarkan ya dan terus pergi.
Setelah sepuluh hari kemudian, kejadian yang sama kembali terulang, jantung berhenti lagi karena faktor yang sama "pendarahan" yang menyumbat. Saat di sampaikan pada ibu si anak, dengan tenang beliaupun berucap,
"Alhamdulillah, Ya Allah jika ada hal baik dalam pemulihannya maka sembuhkan lah dia ya Allah".
Selepas itu iapun berlalu pergi tanpa permintaan dan ucapan yang lain.
Setelah 3,5 bulan anak sudah mulai membaik, namun di temui ada abses berisi nanah di kepalanya. Hingga menyebabkan ia masih belum bisa bergerak. Hanya di tempat tidur tanpa reaksi apa-apa. Saat perkembangan itu disampaikan pada ibunya, lagi-lagi ia hanya mengucapkan pujian pada Rabbnya,
"Alhamdulillah" kemudian pergi.
Dua Minggu berlalu setelah penanganan nanah itu, tiba-tiba anak malang itu demam tinggi hingga 41,2 derajat C. Untuk kesekian kalinya, sang ibu juga menanggapi kondisi anak dengan alhamdulillah. Di sebelah kasur rawat anak juga terbaring ibu dengan anaknya yang demam hingga 37,6 derjad C, wanita itu berteriak memanggil dokter dan menangis. Kamipun berusaha menenangkan dan berkata,
"Lihatlah ibu seberang sana, anakx panas hingga 41,2 derjad C tapi masih bisa sabar dan memuji Allah".
Sesaat wanita itu marah dan menghina, "Wanita itu tidak waras dan tak memiliki hati".
Sesuatu yang mulia tak jarang jadi hinaan sebagian besar manusia.
Terus terlihat Ibu yang sabar itu merawat anaknya dengan hati-hati. Meski anak lelakinya tidak berbicara, tidak melihat, tidak mendengar dan tak bergerak. Ada banyak doa yang ia lantunkan mengharap ridho dan kebaikan besar pada Allah atas kebaikan anaknya. Tanpa ada amarah, kesal dan menghujat kondisi. Setelah 6 bulan di ruang rawatan akhirnya pulang. Dan cerita tak sampai di sana saja.
Setelah satu setengah tahun meninggalkan rumah sakit, keluarga itu datang kembali berkunjung. Bukan karena ada yang sakit namun untuk silahturahmi, kali itu ada bapak anak turut serta dan seorang bayi usia 4 bulan. Dokter pun berkelakar dengan mengajukan pertanyaan.
"Ini anak keberapa ayah, 13 atau 14?" Mengarahkan pandangan pada bayi kecil yang manis dalam pangkuan ibunya.
"Tidak, ini anak kedua. Yang dokter rawat waktu itu adalah anak pertama, anak yang kami tunggu kehadiran setelah 17 tahun menikah, dan Allah menguji kami dengan sakitnya".
Mendengar penjelasan itu sang dokter sangat kaget. Ia terbayang bagaimana ibu si anak dengan sabar menerima kondisi anaknya, selalu berdzikir pada Allah. Untuk anak yang di tunggu kehadirannya selama 17 tahun.
Mendengar kisah ini sungguh luar biasa. Tak ada yang lebih baik dari sabar. Kemuliaan tertinggi membuahkan kesabaran dan ikhlas atas takdir Allah. Belajar banyak dari kisah ini. Semoga saat kita dapat ujian kita lebih bisa memantapkan diri sebagai seorang hamba. Bukan sebagai raja yang harus di penuhi inginnya. Kita boleh sedih tapi belajarlah ridho atas ketetapan apapun dari Allah.

Posting Komentar